Profile Gembala

vetriPdt. Vetri B Kumaseh, begitu ia dikenal. Sejak 1988, melayani sebagai worship leader di Gereja Bethel Indonesia (GBI) Senayan di bawah penggembalaan Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo. Setelah bertahun-tahun melayani di sana, atas perkenan Tuhan, suami Lydia Santi Lipesik ini telah menelorkan sekitar 40-an album rohani yang sangat memberkati gereja-gereja Tuhan. Namun, kini ayah tiga anak ini tak hanya menyanyikan lagu-lagu rohani. Ia juga menggembalakan jemaat GBI  Voice of Transformation (VoT)( sekarang GBI VOT Palmerah ). Bagaimana kisahnya? Berikut wawancara Manati I. Zega. Ditulis kembali dengan gaya tutur saya.

TUNGGU KONFIRMASI GEMBALA

Sebelum jadi gembala sidang, banyak hamba Tuhan meminta untuk menggembalakan jemaat. Namun, saya selalu menolaknya. Saya selalu katakan tidak! Memang sejak tahun 1988 saya telah melayani persekutuan doa. Tapi, waktu itu belum ada niat untuk menggembalakan sidang. Saya lebih menikmati sebagai worship leader. Saya merasa itulah bidang saya.

Akan tetapi, akhir 2004 gembala senior saya, Pdt. Niko meminta agar saya menggembalakan jemaat. Konfirmasi ini sebenarnya telah lama saya tunggu-tunggu. Kalau gembala senior tidak memintanya, saya tidak akan menggembalakan. Dari awal saya sudah komitmen untuk bersama Pdt. Niko. Namun, ketika ia memintanya, permintaan itu pun saya terima. Untuk keperluan pelayanan itu, 12 Desember 2004 saya ditahbiskan sebagai gembala di GBI Semanggi Voice of Transformation Jakarta.

Menjadi gembala, bagi saya bukan hal mudah. Sebagai penyanyi rohani menjadi gembala tentu banyak pergumulan. Apalagi basic pendidikan saya bukanlah teologi. Setelah ditahbis jadi gembala barulah saya kuliah teologi. Prinsip yang saya pegang adalah saya mengalami Tuhan terlebih dahulu baru sekolah. Mengapa? Kalau sekolah lebih dahulu bisa-bisa lebih pintar dari Tuhan. Lebih banyak protes Tuhan. Lebih galak lagi. Saya tidak mau yang seperti itu. Ketika sudah dalam penggembalaan barulah saya melengkapi diri dengan belajar teologi. Pendidikan S1 teologi sudah rampung. Sekarang sedang persiapan studi lanjut. Mau menyelesaikan program pascasarjana bidang teologi.

Di depan telah saya singgung bahwa menjadi gembala tidak mudah. Pada suatu kali di awal penggembalaan, saya tanya kepada Tuhan. Lalu, Tuhan pun menjawabnya. “Kamu mau jemaat berapa?”. “Terus terang saya katakan tidak mau 3000 orang deh Tuhan.” Ya, menggembalakan 3000 jemaat pasti ada 3000 masalah yang harus dihadapi. Bisa bikin pusing tuh.

Dalam penggembalaan tak dapat disangkal banyak masalah. Ini hal biasa. Masalah datang tiada henti. Mulai dari masalah sederhana hingga masalah yang berat-berat. Lantas bagaimana mengatasinya? Saya punya prinsip, “Lord i believe.” Saya yakin dalam segala keadaan, baik atau buruk tersimpan maksud Tuhan yang agung. Maksud Tuhan yang besar. Maksud Tuhan yang terkadang sukar dipahami. Namun, ujung-ujungnya demi kebaikan.

Selain percaya kepada Tuhan, saya juga selalu intim dengan Tuhan. Selalu mepet dengan-Nya. Saya menyadari betapa lemahnya saya tanpa Tuhan. Karena itulah pujian dan penyembahan selalu saya naikkan. Keintiman dengan Tuhan itulah kekuatan pelayanan selama ini. Kalau tidak demikian, mungkin enggak kuat juga dalam menangani beragam masalah dalam pelayanan. Keintiman dengan Tuhan itulah yang membuat saya selalu tegar. Selalu optimis menghadapi persoalan dan kehidupan ini. Pesimis tidak mendapat tempat sedikit pun dalam pelayanan saya.

TAK MAU ONE MAN SHOW

Sekali lagi penggembalaan butuh strategi. Pengalaman saya menunjukkan menggembalakan dengan gaya family lebih efektif. Bukan berarti menggembalakan dengan strategi lain tidak efektif. Bukan! Namun, bagi saya menggembalakan dengan metode family—keluarga lebih efektif.

Menggembalakan dengan model ini tidak berbicara antara atasan dan bawahan. Bos dan anak buah. Dengan metode ini kita berbicara sebagai seorang bapa dengan anaknya. Apa pun yang terjadi, karena kita keluarga, maka kita bicarakan bersama. Kita cari penyelesaian bersama. Berbeda dengan gaya bos, apalagi one man show. Model seperti ini membuat bawahan kurang bisa berkembang. Mereka terkungkung. Ya, kalau ada yang suka seperti itu ya boleh-boleh saja. Ini masalah prinsip kok. Tapi kalau saya, saya tidak senang dengan model penggembalaan demikian.

Memang komunitas kami belum terlalu besar. Namun, prinsip penggembalaan family itu sudah kami terapkan. Saya merasa luar biasa metode ini. Prinsip keluarga itu membuat kami saling terbuka. Saya dan staf selalu terbuka. Semua kami bicarakan bersama. Akibatnya, hubungan kami makin akrab dan baik. Pelayanan pun makin berkembang. Di Jakarta sendiri telah ada 13 cabang gereja. Sementara di luar Jakarta telah ada sekitar 25 cabang. Puji Tuhan!

Dalam pelayanan mimbar pun kami berbagi. Tidak setiap Minggu saya yang berkhotbah. Kadang-kadang kami mengundang pendeta lain yang sevisi. Tapi, bisa juga staf yang akan melayani. Bahkan kalau saya pelayanan ke luar dan saya mendapatkan sesuatu yang baru, saya pun sharing dengan staf. Dengan demikian pelayanan tidak bertumpu kepada saya. Ada pembagian yang jelas yang kami lakukan. Saya berpinsip pelayanan one man show itu berbahaya. Ketika sang pemimpin tidak lagi di tempat misalnya, dipastikan pelayanan akan buyar. Nah, model seperti ini ‘kan sangat merugikan pekerjaan Tuhan. Maka saya memutuskan tidak akan menggembalakan dengan model seperti itu.

KEBUTUHAN GEREJA DI INDONESIA

Di Tempat pelayanan kami, Tuhan sedang mengerjakan hal-hal besar. Tuhan sedang bergerak melawat umat-Nya. Saya juga merindukan hal itu melanda gereja-gereja Tuhan di Indonesia. Sungguh, hari-hari ini saya melihat Tuhan bekerja luar biasa di tengah gereja-Nya. Kini Tuhan sedang mencari penyembah-penyembah yang benar. Saya sungguh-sungguh berdoa supaya gereja-gereja Tuhan, para musisi, pendeta, semuanya menjadi penyembah yang benar. Penyembah Tuhan di dalam Roh dan kebenaran.

Dalam pengamatan saya, Tuhan sekarang masuk dengan cara-cara seperti itu. Tuhan mau penyembah-penyembah sejati. Kalau orang enggak mau ikut Tuhan dengan sungguh-sungguh mereka pasti ketinggalan. Saya cuma bisa berdoa dan berharap agar pujian dan penyembahan melanda gereja-Nya di negeri ini. Kita rindu lawatan Tuhan terjadi dalam gereja- Nya.

Kalau saya amati, akhir-akhir ini saya melihat gereja-gereja sudah mulai seperti itu. Mereka sudah tidak melihat bendera gerejanya lagi. Mereka hanya mau menyembah Tuhan. Saya telah menyaksikan hal itu di mana-mana. Ketika acara healing movement diselenggarakan kesatuan tubuh Kristus terjadi. Walaupun awal-awalnya ada kecurigaan dengan gerakan ini. Namun, setelah berlangsung sekian lama kecurigaan itu tertepis dengan sendirinya. Sekarang para pemimpin duduk bersama, menyembah Tuhan, dan keajaiban pun terjadi. Dahsyat! Bersama Pdt. Niko, kami telah menyaksikan kesembuhan yang luar biasa. Pujian dan penyembahan mengundang mukjizat Allah. Maka percayalah! Katakan, “Lord, i believe”..

Pdt. Vetri Billy Kumaseh, S.Th adalah Gembala Sidang Gereja Bethel Indonesia (GBI) Voice of Transformation Jakarta ( sekarang GBI VOT Pusat ).

Sumber: Majalah Bahana, Januari 2011

Scroll to top